Misteri Malam L…

Misteri Malam Lailatul Qodar

Sejak kecil, sewaktu mengaji di mesjid di kampung, sekolah dasar, hingga SMA, bahkan sampai ketika berada di lingkungan Salman ITB, malam lailatul qadar selalu dibicarakan dan menjadi pelajaran yang saya terima dari kecil tersebut. Berbagai dalil, baik Al-Qur’an dan Hadits, mengemukakan tentang begitu berharganya malam seribu bulan ini. Bimbo pun merepresentasikan malam Lailatul Qodar tersebut dalam lagu-lagunya.

Banyak keterangan yang merujuk bahwa malam Lailatul Qodar tersebut terjadi pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Jujurnya, sejak di bangku SMA, saya selalu menanyakan mengapa Alloh SWT membuat malam Lailatul Qodar? Dimana lebih baik dari seribu bulan, jika kita beribadah di malam tersebut, maka pahalanya sama dengan ibadah selama 1000 bulan? Sampai hari ini, pertanyaan itu selalu mengemuka dalam pikiran saya. Bukankah semua hari adalah baik? Bahkan tidak ada hari yang lebih baik selain hari-hari yang dihiasi oleh dzikir kita kepada Alloh SWT. Bagaimana halnya dengan para wanita yang mungkin saja pada saat 10 hari terakhir tersebut tidak dapat i’tikaf di mesjid? Hilangkah kesempatan wanita tersebut mendapatkan malam 1000 bulan?

Pertanyaan tersebut semakin menguat tatkala saya sudah menikah. Sejak kami menikah, secara kebetulan, istri saya selalu datang bulan di hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Kami menikah tahun 2000, dan baru tahun 2005 kemarin istri saya bisa sholat Idul Fitri. Sedangkan tahun sebelumnya, selalu sedang datang bulan. Tentu saja, saya sebagai manusia, kalau berpikir tentang kesempatan mendapat pahala (meskipun Insya Allah saya berusaha untuk tidak melihat pahala dulu), ada sedikit pertanyaan dan kegelisahan, dapatkah istri saya memperoleh sebuah nilai ibadah yang nilainya juga 1000 bulan..? Apakah demi mengejar malam 1000 bulan istri saya harus meminum pil anti haid di 10 malam terakhir bulan puasa…?

Kini saya sedikit agak lega setelah membaca tulisan Ir. H. Bambang Pranggono MBA, dimana saya sempat juga hadir dalam acara tentang kekuatan air di mesjid Unisba, awal Ramadhan ini. Pak Bambang ternyata memiliki pandangan yang menurut saya dapat menjawab pertanyaan saya yang terakhir tadi. Berikut adalah kutipannya yang saya peroleh dari harian Pikiran Rakyat:

Misteri Lailatul Qadar

“Malam Qadar lebih baik dari seribu bulan.” (Alquran surat Al Qadr ayat 3)

SYAHDAN para sahabat Nabi Muhammad saw. kagum mendengar kisah pemuda Bani Israil yang taat. Dia beribadah di malam hari dan berjihad di siang hari terus-menerus selama 80 tahun. Selanjutnya, turunlah surat ini yang memberi peluang umat Islam memperoleh pahala 1.000 bulan dengan ibadah cukup satu malam.

Malam itu dinamakan Lailatul Qadar. Para ulama sepakat bahwa mulianya Lailatul Qadar karena Alquran turun di malam itu. Dalam kitab Mazahirul Haq tertulis bahwa di malam itu malaikat diciptakan dan pohon-pohon surga ditanam. Dalam kitab Ad-Durrul Mantsur tertulis bahwa di malam itu Nabi Isa a.s. diangkat kelangit.

Sayyid Qutub dalam tafsir Fi Dzilalil Quran menyatakan, malam Lailatul Qadar bermandikan cahaya Allah, cahaya malaikat, dan cahaya roh sampai terbit cahaya fajar. Rasulullah saw. menyuruh kita menghidupkan malam itu,”Barangsiapa bangun untuk ibadah di malam Lailatul Qadar, dengan iman dan harapan, akan diampuni dosa-dosanya yang lampau.”

Masalahnya adalah tanggal berapa Lailatul Qadar? Ada 50 pendapat yang berbeda-beda tentang saat terjadinya Lailatul Qadar. Imam Syafii menyatakan tanggal 21 Ramadan. Ibnu Abbas r.a. mengatakan tanggal 23. Ubay bin Ka’aab r.a. tanggal 27.

Aisyah r.a. berkata bahwa Nabi menyuruh mencarinya di malam-malam ganjil pada 10 malam terakhir bulan Ramadan. Yakni malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Itu kalau bulan Ramadan lamanya 30 hari. Kalau hanya 29 hari, menurut Ibnu Hazm, 10 hari terakhir dimulai tanggal 20, jadi Lailatul Qadar harus dicari sejak malam ke-20, 22, 24, 26, dan 28. Artinya, bisa saja salah satu malam dari tanggal 20 sampai akhir Ramadan, baik ganjil maupun genap.

Imam Malik mengatakan, Lailatul Qadar bergeser dari tahun ke tahun antara 10 malam terakhir itu. Yang aneh ialah pendapat Ibnu Araby bahwa Lailatul Qadar bergeser sepanjang tahun, bukan hanya di bulan Ramadan. Beliau pernah menemui Lailatul Qadar dua kali di bulan Sya’ban, dan dua kali di bulan Ramadan.

Lantas menurut Syah Waliyullah Dehlawi, Lailatul Qadar datang dua kali setahun. Yakni pada tanggal turunnya Alquran pertama kali di bulan Ramadan, dan pada tanggal-tanggal lain sesuai ketika wahyu turun berturut-turut sepanjang tahun.

Jadi, sepanjang tahun kita boleh mencari Lailatul Qadar. Yang paling ekstrem adalah pendapat bahwa Lailatul Qadar hanya terjadi satu kali, yakni waktu turunnya Alquran kepada Nabi Muhammad saw. di gua Hira, dan tidak terulang lagi, maka sia-sia kita menunggunya sekarang!

Alhasil probabilitas terjadinya Lailatul Qadar dalam setahun berkisar antara nol sampai 365 malam. Akan tetapi, nanti dulu, karena bumi itu bulat, ketika misalnya di Kota Mekah ditakdirkan berlangsung malam Lailatul Qadar tanggal 27 Ramadan, Kota New York waktu itu sedang siang hari. Apakah para malaikat turun beterbangan bergeser mengikuti kegelapan ke arah Barat? Atau hanya pada jam-jam tertentu itu saja mereka berada di bumi. Logisnya berkah kemuliaan detik-detik Lailatul Qadar mestinya bisa diperoleh juga oleh mereka yang sedang beribadah di siang hari, di belahan bumi lain.

Maka, Lailatul Qadar sebetulnya bisa terjadi setiap hari sepanjang tahun, baik malam maupun siang. Daripada main tebak-tebakan tanggal untuk beribadah di salah satu malam saja, mungkin lebih baik bila kita beribadah saja terus setiap hari setiap malam sepanjang tahun, insya Allah ada peluang memperoleh kemuliaan Lailatul Qadar. Wallahu a’lam bishshawab.

Oleh Ir. H. BAMBANG PRANGGONO, M.B.A.
Penulis, mubalig, salah seorang pendiri organisasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI).

Dengan adanya pendapat dari Pak Bambang ini, tentu saja tidak membuat surut niat saya Ramadhan ini untuk mendapatkan kesempatan malam 1000 bulan. Bagi saya, setiap malam, setiap siang dalam bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya adalah malam 1.000 bulan. Akhirnya saya sendiri berpendapat, alangkah nikmatnya ketika ibadah kita bisa ikhlas, lurus dan tulus, tanpa perlu menghitung-hitung seberapa besar pahala yang akan kita dapatkan dengan cara anu, dengan cara ini, dengan cara itu. Semua baru akan mendapatkan nilai di hadapan Alloh seandainya didasari niat ikhlas semata-mata kita beribadah karena Alloh, bukan karena nilai pahalanya yang sama dengan 1.000 bulan. Anda punya pendapat lain..? Silakan saja :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s