Ketika Surga da…

Ketika Surga dan Bidadarinya Sudah Tidak Menggiurkan, Ketika Neraka dan Apinya Sudah Tidak Lagi Menakutkan

Satu hari saya berjalan, di pinggir jalan tersebut sedang dilakukan perbaikan gorong-gorong dan trotoar. Saya melihat gorong-gorong tersebut dibagian atasnya diberi penguat berupa balok beton melintang. Mungkin nantinya buat penyangga balok-balok trotoar. Mata saya tertumbuk ke satu balok beton yang sudah dibongkar papan penahan adonan betonnya, artinya betonnya sudah kering. Saya heran karena balok beton tersebut tampak tidak terisi semua dengan adonan beton. Ujungnya masih kosong dan menampakkan besi-besinya betonnya tak terbungkus. Saya heran, kalau dianggap belum selesai, mengapa papan betonnya sudah dilepas dan betonnya tersebut sudah mengering? Lah ujung satunya kan belum dikasih adonan beton bos..? Lah sampeyan kan orang pendidikan, tahu dong standar ilmu sipil itu bagaimana..?

Korupsi kecil-kecilan kah..? Bisa jadi bisa tidak. Tetapi seandainya itu betul hanya diisi adonan beton tidak sampai penuh semua, alangkah nistanya pemborong proyek tersebut. Saya yakin di KTP dia tertera lah apa agama yang dia anut. Kalau iya dia menganut satu ajaran agama, mengapa dia tega berbuat demikian? Sudahlah jangan terlalu berpikir agama beserta surga dan nerakanya. Coba berpikir sederhana saja, bagaimana seandainya ada orang melewati trotoar tersebut tiba-tiba terperosok, lalu meninggal, halah jangan terlalu dramatis, lalu dia celaka dan harus dirawat di rumah sakit?

Dia harus mengeluarkan biaya rumah sakit, pekerjaanya terganggu, mungkin biaya yang dia keluarkan untuk rumah sakit adalah uang sekolah anak-anaknya. Hayoh.. ga usah terlalu jauh mikir hukum Tuhan, katakan saja pada hati nuranimu wahai pemborong, apa kata hatimu jika itu menimpa dirimu? Bagaimana nasib anak-anakmu? Lupakan dulu surga dan neraka, hadapi saja dulu yang nyata di dunia ini. Bayangkan saja seandainya itu terjadi pada dirimu.

Satu hari saya berjalan lagi, melihat sebuah jalan raya sedang digali melintang, perbaikan gorong-gorong lagi. Sebulan kemudian saya kembali ke jalan tersebut, gorong-gorong sudah selesai. Alhamdulillah. Masalahnya, saya jadi heran, bukankah dulu sewaktu belum dibongkar jalan itu mulus. Lalu mengapa sekarang pas di gorong-gorong yang melintang tersebut jadi menjendul?  Yang menjadi keheranan terbesar saya adalah: Apakah perlu seorang lulusan S3 atau profesor untuk bisa menghitung berapa ketinggian tembok gorong-gorong ditambah balok beton penutup ditambah aspal? Saya perhatikan, jalan di kota Bandung ini (mungkin di kota lainnya) kalau sudah dibongkar rata-rata tidak lagi mulus. Kalau ga tambah tinggi yang tambah rendah. Akibatnya kalau kendaraan melewatinya akan terguncang.

Jangan bicara surga dan neraka dulu lah, pikirkan umur shockbreaker yang akan bertambah pendek karena melewati gorong-gorong tidak rata tersebut. Kau sudah merugikan orang lain hai pemborong. :D Pikirkan orang yang tiba-tiba kaget karena kendaraan terguncang, bagaimana kalau ada nenek-nenek jantungan? Atau lebih dramatis lagi, bagaimana kalau ada pengendara motor yang terpental dan kehilangan keseimbangan karena terantuk gorong-gorong yang lebih tinggi/lebih rendah dari jalan sebelumnya? Tiba-tiba dia terjatuh dari motornya, dan tertabrak kendaraan di belakangnya? Ternyata si pengendara motor ini adalah seorang ayah yang punya banyak tanggungan anak? Coba dramatisir terus. :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s