Al-Qur’an Yang Sesungguhnya Berada Dalam Dada Kita?

Hampir dapat dipastikan, semua orang yang beragama mengerti bahwa Tuhan itu Maha Esa. Tuhan pula yang menciptakan langit, bumi dan alam semesta ini. Tuhan juga mengutus para nabi, rasul, dan utusan untuk memberikan petunjuk bagi manusia. Saya selama ini cuma mengerti bahwa yang memberi petunjuk adalah nabi dan rasul. Ada beberapa nabi dan rasul yang disertai dengan turunnya kitab suci. Tetapi, ternyata yang memberi petunjuk bukan hanya nabi dan rasul, tetapi Tuhan juga bisa mengutus “pemberi petunjuk.”

Selain itu, kepada suatu kaum atau masyarakat, Tuhan juga sering mengutus “pemberi petunjuk.” Setiap kaum ada pemberi petunjuknya. Bukan hanya kaum sebelum Nabi Muhammad yang dikirimi pemberi petunjuk. Bahkan di setiap kurun waktu dalam suatu agama selalu ada orang-orang yang memberi petunjuk. Orang-orang ini yang menyegarkan dan meluruskan kembali ajaran agamanya. Dengan demikian agama tersebut tidak ditinggalkan oleh pemeluknya. Tidak setiap nabi dan rasul disertai dengan turunnya kitab suci.

Kita tahu, bahwa Tuhan adalah “sesuatu” yang tidak terjangkau oleh indra, budi, dan pikiran. Tidak dapat dijelaskan seperti apa. Apakah seperti sinar? Seperti cahaya? Atau tidak tampak apa pun selain gelap gulita? Ya, Tuhan memang tidak dapat digambarkan seperti apa pun. Tetapi kita sebagai umat beragama, apa pun agamanya sadar bahwa Tuhan itu “ada”.

Untuk itu manusia diberi petunjuk dengan sesuatu yang bernama wahyu. Wahyu itu terbagi menjadi dua: bersifat Kitabiyah (Qur’an, Injil, Taurat, Zabut, Zen Avesta, Weda, Tipitaka, dll), dan satu lagi bersifat Kauniyah (kebenaran yang ada di alam ini).

Apa saja sih contohnya wahyu yang bersifat kauniyah? Contohnya rahasia alam semesta ini, bagaimana matahari terbit? Bagaimana hujan bisa turun dan lain-lain. Nah, wahyu yang bersifat kauniyah ini tidak terbatas diturunkan kepada nabi dan rasul atau sang pemberi pentunjuk. Bisa jadi, seorang ilmuwan memperoleh kehormatan dari Tuhan untuk menerima wahyu yang bersifat kauniyah ini.

Orang yang telah menerima wahyu dari Tuhan, apa pun jenis wahyu yang diterimanya, akan membuat hidupnya menjadi lebih santun dan berusaha mengarahkan orang lain ke kehidupan yang benar dan lebih baik. Ia tidak memaksa, karena fungsinya hanya sebagai memberikan peringatan, petunjuk dan kabar baik.

Orang yang bisa berkomunikasi dengan Tuhan, akan mewujudkan akhlak Tuhan. “Berbudi pekertilah kamu seperti budi pekerti Tuhan,” kata sebuah hadist.

Saya sebagai umat muslim mempercayai dengan sepenuh hati bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang paling akhir. Tidak akan pernah ada nabi lagi setelah beliau, karena sudah jelas dalam surat Al-Maidah. Kalau memang sudah tidak akan ada lagi nabi yang diutus, lalu untuk apa masih ada orang yang diberi wahyu?

Kitab suci hanya memberikan ‘tanda-tanda’, ayat-ayat yang mengikuti lisan, bahasa, budaya dan zaman pada saat nabi tersebut menerima kitab suci itu. Sedangkan esensi kitab suci itu harus dapat dipahami oleh pembacanya.

Sebuah ayat suci menyebutkan: “Seorang majikan halal menggauli seorang budaknya.” Adanya ayat ini tidak berarti perbudakan harus dilanggengkan. Kini di jaman yang bebas perbudakan, ayat suci tadi sudah harus masuk kotak, tidak perlu lagi dihidupkan.

Sama seperti halnya ayat yang menyebutkan bahwa meminum khamar (minuman keras) tidak haram, tetapi banyak mudhorotnya daripada manfaatnya. Atau ayat yang menyebutkan boleh meminum minuman keras, tetapi orang harus menjauhi dulu minuman keras sebelum mau sholat.

Loh kalau begitu kita sesat dong, karena tidak mau menggunakan ayat suci? Bukan begitu, kita harus mengerti asbabun nujul nuzul (sebab-sebab turunnya ayat tersebut) serta sejarah urutan turunnya ayat suci Al-Qur’an. Dengan demikian, cukup kita pergunakan ayat yang paling mutakhir, yaitu: “Sesungguhnya minuman keras (mabuk-mabukan), mengundi nasib dengan anak panah (berjudi) adalah rijsun (najis), haram hukumnya.”

Contoh konkret lainnya: mana yang lebih penting, menerapkan hukum potong tangan bagi pencuri, atau membangun ekonomi yang penuh dengan keadilan? Dalam tarikh Islam pernah ada kasus, seorang laki-laki kedapatan mencuri. Ketika dihadapkan ke pengadilan, laki-laki itu mengaku mencuri karena terpaksa sudah berhari-hari tidak makan. Dalam hal ini, yang seharusnya dihukum adalah negara, karena sudah jelas, fakir miskin dipelihara oleh negara alias menjadi tanggungan negara. Jadi kalau hari ini kita lihat masih banyak anak-anak jalanan yang tidak terurus, sesungguhnya yang wajib dikenai hukuman adalah negara. Dan lebih celaka lagi, pemimpin pun akan dimintai tanggung jawabnya ketika rakyatnya ada yang menderita kelaparan.

Pernah suatu hari Sayyidina Umar, menolak untuk dibantu menangkat beras yang akan diberikannya kepada seorang Ibu & anaknya yang ternyata tidak punya beras. Sang Khalifah pun berkata: “Kamu boleh angkat beras ini, tetapi maukah kau menanggung azabku di akhirat nanti?” Seorang pemimpin seperti Umar, begitu takut tidak dapat melayani rakyatnya.

Kembali ke hukum potong tangan, diperlukan ahli hikmat yang akan merumuskan: lebih baik membangun ekonomi yang penuh keadilan, sehingga akan mencegah pencuri-pencuri yang beralasan karena kelaparan. Ahli hikmat ini juga yang dapat menentukan, apakah seorang dapat dihukum gantung, karena kedapatan korupsi dan menyengsarakan rakyat. Hikmat diperlukan, agar bahasa kitab suci dapat diterjemahkan dalam kehidupan nyata.

Orang yang mendapat hikmat dari Tuhan adalah orang-orang yang telah menerima kebajikan, kekayaan, kesejahteraan, keuntungan, dan caritas. Orang yang menerima hikmat itu adalah “ulil albab”, orang-orang yang akalnya dipimpin oleh Allah SWT (QS: Al-Baqoroh: 269). Orang yang mendapat hikmat dari Allah, tak akan benci lagi kepada orang lain.

Orang baru bisa mendapat hikmat jika ia mencarinya. Orang juga akan mendapat hikmat jika dia tidak berlaku zalim. Karena Tuhan tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang zalim (Q.S. 2:258, 6:144, 46:10, 61:7 dan 62:5).

Lalu siapakah orang-orang yang berlaku zalim? Orang berbuat zalim tidak terkait dengan agama apa pun. Bisa saja dia beragama Islam, Nasrani, Hindu, Yahudi, dll. Yang jelas, orang zalim adalah orang yang merugikan orang lain baik langsung maupun tidak langsung. Al-Qur’an lebih jelas lagi memberikan tuntunan siapakah yang dikategorikan sebagai orang zalim:

  1. Seseorang yang mau menang sendiri. Ia tidak bisa menerima argumen orang lain.
  2. Orang yang hanya mau mengakui kebenaran golongan atau kelompoknya sendiri. Bahkan orang lain dipaksa untuk ikut kebenaran yang mereka klaim tersebut. Golongan lain dianggap sesat dan tidak berpijak pada kebenaran
  3. Orang yang mengada-ada dan menyesatkan orang lain. Contohnya, sebetulnya tidak ada konflik antara A dan B, tetapi dibuatlah rekayasa, sehingga A dan B bertikai.
  4. Orang yang menolak seruan damai.

Dalam sejarah Islam, Ali bin Abi Thalib dikenal orang yang sangat cinta damai. Meskipun dia tahu ajakan damai dari musuhnya adalah jebakan, tetapi dia tetap mau berunding untuk sebuah perdamaian. Ali bin Abi Thalib tidak mau menjadi manusia zalim, dia telah menerima hikmat, dia harus santun dalam kehidupan. Dia ingin mewujudkan agama sebagai rahmat bagi semua orang, bagi semua makhluk hidup.

Ayat-ayat suci Al-Qur’an baru akan menjadi petunjuk, jika orang mampu membacanya di dalam dada, di dalam hati, mencernanya dengan kejernihan hati. Rasulullah sampai perlu pergi ke Gua Hira untuk menyendiri, untuk mencari hikmat dengan hati yang jernih, jauh dari hiruk pikuk keramaian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s